Mon. Sep 21st, 2020

Mencoba hidup di ibu kota dari kota kecil dulunya tidak semudah membalikkan mangkuk bakso di jadikan tumpah tidak pecah.

Beberapa bulan di ibu kota yang baru memang berhasil untuk menemukan relasi – relasi yang ada di sekiaran tempat tinggal saya sekarang. Grup olahraga tentunya yang saya ikuti.

Salam hangat di curahkan pada saya dengan diberikannya saya sebuah cidera lutut dimana saya baru mengikuti latihan basket di Bekasi 4 kali berturut – turut.

Permainan yang berbeda membuat saya harus lebih adaptif dengan permainan grup olahraga yang saya ikuti di sini. Setelah rehat selama satu bulan lebih akhirnya saya comeback untuk mengikuti latihan kembali.

Latihan yang saya ikuti selama kurang lebih delapan kali berturut – turut memaksa perasaan tenang saya dalam keadaan zona nyaman dalam mengikuti grup olah raga yang saya ikuti.

Ternyata saya terlalu mudah percaya dalam keadaan zona nyaman yang membuat saya cedera kaki engkel kembali di sebelah kanan karena penyebab ditabraknya saya dalam latihan di grup yang saya ikuti. Ini cedera yang terparah yang belum saya alami selama saya bermain Basket dimanapun.

Terpaksa rehat kembali selama satu bulan lebih untuk memulihakn kaki saya. Ketika kaki sudah merasa baikan timbulah masalah lagi dimana saya mempunyai rasa sakit tiba – tiba di perut kanan saya.

Tidak kuat untuk menahan perih yang dahsyat maka saya pun dibawa ke UGD terdekat. Perkiraan saya hanya mag yang terlalu sakit ternyata saya di diagnosa terkena penyakit usu buntu dan harus melakukan operasi malam itu juga.

Perasaan kaget dan tidak menyangka akhirnya saya menghubungi pihak keluarga saya. Untungnya berita baik terdengar oleh sang dokter ahli spesialist penyakit yang mengatakan “ini karena sudah tidak terlalu sakit lagi bisa di opname terlebih dahulu untuk melihat perkembangan tubuh saya sampai besoknya”.

Ditemani teman kerja saya untuk tinggal disana dengan keadaan saya yang sedang opname. Iseng untuk membuat status tak terelakkan dan sampai 127 chatting mengarah pada status saya. Dari keluarga, teman kuliah, teman rumah, teman SD, teman basket di Bekasi, dan teman teman yang lain tidak menyangka bahwa saya diopname.

Yah sampai sekarang pun saya masih heran walaupun saya sudah menjaga kesehatan diri dengan baik namun jika suatu penyakit ingin hinggap karena ada hal kecil yang mengganjal di tubuh kita dan menyebabkan masalah maka takkan terelakkan lagi saya harus mempunyai penyakit yang dimana sebelumnya belum pernah saya rasakan dari kecil. (will)

By willy

5 thoughts on “Masih adaptasi”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *