Selamat jalan Mang Adul

Jumat tanggal 10 kemarin, telah wafat teman saya bernama Mang Adul. Beliau merupakan salah satu tim yang cekatan dan sigap menurut saya. Sifat yang harus dipunyai all tim di kantor agar cepat tanggap jika ada permintaan dari atasan maupun dari Pak Bos tentunya. Saya malah belum paham sejak kapan Mang Adul ini bekerja untuk Pak Bos. Setahu saya Mang Adul seringkali mengantarkan Pak Bos saat Pak Bos mengunjungi Brebes dulu.

Semenjak saya bekerja di Excellent saya semakin akrab sama Beliau dan sering bercanda juga kalau misalkan sedang mengobrol. Terakhir saya mengobrol dengan Beliau mungkin bulan lalu saat saya mengantarkan sesuatu barang ke toko pertanian zeze zahra di tambun. Mang Adul memang di stanby kan disitu dengan beberapa pekerjaan yang salah satunya mengolah pupuk untuk tanaman-tanaman di tambun maupun di karawang/kabin. Seringkali saya bersantai agak lama di toko zeze zahra karena sejuk disana sambil cerita ngalor ngidul dengan Beliau.

Seperti kata Pak Bos, kita merasa kehilangan Mang Adul karena memang Mang Adul sudah seperti keluarga Excellent yang terbentuk dengan sendirinya. Mang Adul merupakan sosok yang humoris jika di dekat tim. Dengan tingkah guyon nya, menjadikan suasana tegang mencair seketika. Pengalaman sebagai driver tidak perlu di ragukan lagi karena itu keahlian Beliau yang seharunya sudah mempunyai jam terbang yang tinggi untuk seorang driver. Bisa jadi sekalinya saya ngobrol dengan Mang Adul saya mendapat sharing knowledge juga dari pengalaman beliau yang tentunya mungkin tidak sanggup saya tiru dan hanya menggelengkan kepala.

Saya mungkin salut dengan si kembar anak Beliau. Di umur segitu sudah ditinggalkan oleh orang tuanya namun mereka tetap menahan tangisnya pecah saat dikeramaian.Tentunya jika saya menjadi mereka saya akan mengalami shock mental dimana saya merupakan orang yang emosional yang gampang runtuh jika salah satu keluarga saya mengalami duka.

Seperti hal nya saya yang kehilangan kakek nenek saya yang di brebes maupun di jogja. Istilahnya saya terlambat untuk lebih dekat dengan mereka walaupun saya masih kecil waktu dulu namun di saat saya sudah besar dan bekerja hal itu pun saya ikat erat kembali sebelum simbok dan simbah (kakek nenek)di jogja akhirnya menghembuskan napasnya. Itu saja saya masih merasa kurang di benak saya, masih ada mungkin keunekan yang perlu di obrolkan lebih intens karena petuah mereka bagi saya semakin bermakna saat saya sudah bekerja dan melihat kondisi mereka yang semakin melemah.

Terimakasih Mang Adul dan selamat jalan, semoga Allah mengampuni semua kesalahan Mang Adul, semoga amalan baik nya dapat di lipat gandakan oleh Allah dan semoga husnul khotimah ya Mang.aamiin. ( will )

By willy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *