Dalam beberapa minggu ini jakarta timur mengalami cuaca yang ekstrim panasnya. Riset saya hanya sekedar menanyakan keadaan di beberapa daerah di jakarta timur yang ternyata mempunyai cuaca yang sama yaitu gerah, pengap dan panas walaupun sudah memakai kipas angin. Kadang kalau ada kipas angin menganggur satu lagi dirumah saya nyalakan untuk kamar saya agar tidak pengap.
Cuaca panas yang bisa membuat saya mandi tiga kali jika sedang weekend atau sekedar sering cuci kaki tangan agar bisa segar jika terkena angin dari kipas angin. Adik saya yang meriang pun sampai sering duduk di lantai agar tidak terlalu gerah di kursi atau di kasur. Panasnya saat tidur membuat badan ogah untuk merebahkan diri ke kasur. Alhasil tidur malam saya pun kadang bisa melewati dini hari. Jujur di sini pasti setuju, waktu yang sangat adem dan nyaman itu disekitar waktu jam 03.00 sampai subuh.
Waktu yang sangat nyaman utnuk tidur namun krusial bagi saya sebagai karyawan yang bekerja di Bekasi. Jika saya tidur lagi di waktu subuh, jelas akan telat bekerja jika di workday. Namun cocok untuk weekday di hari sabtu dan minggu. Utamakan sholat dahulu dan pergi tidur kembali.wkwkwk.. (jangan ditiru ya guys)
Keadaan itu karena ada faktor cuaca panas yang gerah yang memang belum saya adaptasikan ke tubuh ya jadi istilahnya saya masih adaptasi dengan cuaca tersebut.
Dengan cuaca yang tidak bersahabat begini, kabar ancaman alam pun sering terdengar seolah alam memberikan kita peringatan atas apa yang akan terjadi. Megathrust kembali menjadi bahan updating artikel di beberapa laporan berita online yang saya baca. Disebut ancaman sebetulnya saya masih ragu dalam penempatan judulnya. Tapi kalau dilihat dari sisi masyarakat, mungkin kejadian ini akan berakibat parah dan parahnya bisa lebih dari yang sudah ernah terjadi di Aceh.
Seingat saya, salah satu anak sekolah dari negara kita pernah membuat alat peringatan tsunami dan gempa namun efeknya mungkin belum maksimal. Tidak tagu kenapa bisa jadi begitu. Harusnya negara Indonesia dari pemerintah sebelumnya sebetulnya bisa mengurangi dan mengantisipasinya. Bisa namun implementasinya masih minim. Terutama bangunan rumah warga nya jelas bangunan warganya tidak semua yang bisa melengkapi bangunan mereka dengan bahan material anti gempa.
Saya dan keluarga juga terus berpikir kritis terkait peringatan tersebut. Saya mempunyai saran jika ada bencana mungkin ada peringatan di hp individu masing-masing dari pemerintah seperti hal nya di negara maju lainnya. Meskipun peringatannya agak telat namun bisa diusahakan agar warganya bisa antisipasi semaksimal mungkin.
Dibuat dari AI bisa tidak ya?
Dibuat dengan jawaban solusinya bisa tidak ya?
Boleh kita sama-sama riset ya terkait hal tersebut.
Terimakasih. ( will )
