Tue. Dec 1st, 2020

Berikut merupakan segelintir kisah yang mungkin pernah saya dan teman saya alami saat berkunjung dan beraktifitas di suatu tempat di daerah Jawa Tengah. Banyak yang menganggap itu sebuah halusinasi, kdang hanya kepercayaan Jawa kuno zaman dulu dan beberapa hanya mitos dari para penduduk sekitar.

  1. Lawang Sewu
    Siapa orang yang tidak kenal dengan tempat bersejarah ini. Tempat yang dulunya menjadi markas Kolonial Belanda untuk menguasai daerah Semarang ini selalu ramai dikerumuni orang. Dulu saat saya masih bersekolah di UDINUS Semarang, saya sering pergi ke lawang sewu dengan teman sekos saya ramai-ramai.

    Dengan membawa senter sendiri guna jaga-jaga jika senter mati di tengah kegelapan arae tersebut. Benar saja, jumlah 5 orang dari kos kami akan ditemani oleh 1 orang penjaga kuncen area tersebut dengan berbekal 2 senter. satu dipegang si kuncen dan satu di pegang teman saya. Saya sengaja menjadi yang paling terkahir karena saya ingin merasakan sensasi orang paling belakang. Di tanah jawa terdapat kepercayaan mitos bahwa orang yang jalan di posisi belkang biasanya mendapat gangguan paling besar di kawasan yang di anggap keramat.

    Kami diajak berkeliling dahulu di ruangan lantai 2 dan 3 yang mempunyai banyak ruangan yang gelap tanpa lampu penerangan sama sekali. Kemudian kami ke loteng bagian paling atas nya gedung dan diceritakan bahwa pernah ada kuncen yang melihat sosok noni belanda kecil yang mengarah ke jendela dan menghilang saat sedang berjaga keliling gantian dengan temannya.

    Sempat kami bertanya,”kenapa tempat ini masih dijaga pak, kan tempatnya angker gini pak ?” tanya teman saya dengan sedikit bergurau.
    “kalau tidak dijaga nanti banyak maling mas karena benda-benda sejarah sini kan berguna apa lagi peninggalan kereta itu , kan besinya mahal jika dijual mas karena besi dari jaman lampau bernilai tinggi”,begitu kata bang kuncen yang kami tanyakan.

    “Nah sekarang saya tunjukkan sama kalian, untuk uji nyali maka kalian coba dua orang jalan sendirian menggunakan senter dari ujung lorong ini ke ujung lorong disana”, kata bang kuncen yang sedikit menakuti kami. Karena teman saya tidak ada yang mau akhirnya saya beranikan diri untuk melakukan hal tersebut.

    Dengan sendirinya saya setuju dan melakukan hal tersebut, semakin menjauh dengan lokasi teman-teman saya semakin saya merasakan hawa dingin dari tempat itu padahal saya berkeringat sebelum saya melakukan uji nyali tersebut. Di sisi lorong saya lihat ruangan kanan kiri saya seperti ada yang mengikuti saya dari samping, namun mata saya tetap tertuju ke arah depan ujung lorong tersebut. Berjalan santai dan tidak boleh berlari karena akan mengganggu penghuni disitu.

    Entah benar atau tidak setelah saya sampai diujung dan mendapati tangga di sisi tersebut, saya merasa hawa dingin semakin menusuk kulit saya membuat adrenalin saya terpacu untuk melihat isi ujung lorong tersebut. Tidak ingin berlama-lama sendiri maka saya pun balik ke lokasi teman saya tersebut dan setelah sampai teman-teman saya dan bang kuncen malah ninggalin saya ke tempat bekas toilet disana.

    Di tempat bekas toilet tersebut, kami tidak merasakan hal-hal yang ……. ya begitulah. Lanjut ke tempat yang paling mengerikan yaitu pada ruangan bawah tanah namun harus membayar lebih 5000 rupiah untuk memasuki ruangan tersebut. Menggunakan sepatu boot ternyata agak lembab, takut ada serangga yang masuk ke kaki pengunjung karena ruangan bawah tanah kan jarang dikunjungi apalagi pas malam-malam seperti kami ini. Kami diperlihatkan tempat yang dulunya menjadi program “Dunia Lain” yang sempat membuat geger bahwa di ruangan tersebut ada ……. .

    Penjara bawah tanah yang kami lihat saat itu memang kecil-kecil sekali hanya berukuran sampai pinggang saya, dan itu pun dulu di tempatkan sampai 3 orang dengan lebar 3 meter. Selain itu ada ruangan jagal, ruangan penjara jongkok, ruangan penjara yang ditempati 50 orang dalam satu sel tersebut. Membayangkan nya saja saya tidak kuat apa lagi jika kita hidup di masa belanda itu.

    Sebenarnya saya dan teman saya sempat mengabadikan foto di bawah tanah tersebut namun dengan kualitas HP Black berry jaman saya maka kulitas masih 360p dan gambar pun masih burem. Saya masih menyimpannya di hp namun sayang hp saya yang sudah tidak kuat dalam perkembangan tekonologi harus eror terlebih dahulu sebelum saya pindah kampus waktu itu. (will)

By willy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *