Berganti zaman dari tahun ke tahun pastinya memang setiap manusia harus dinamis demi menghadapi zaman yang semakin modern. Namun satu hal yang sering di lupakan oleh anak zaman milenial sekarang, bahwa melestarikan budaya sendiri kadang masih menjadi hal yang dianggap kurang begitu penting oleh anak muda.

Kali ini demi mengenalkan suatu tempat, saya harus rela traveling di tempat wisata dimana pandemi ini masih dianggap dalam keadaan gawat. Saya terinspirasi dengan video di youtube yang mengekspose kegiatan satu orang yang yang berkuasa dalam politik di daerah lumajang.

Tahu sendiri kan Jawa Timur sekarang kondisinya bagaimana ?

Kondisi di sana semakin parah dikarenakan tempat padat penduduk yang masih beraktivitas tidak mematuhi anjuran pencegahan covid-19. Memang tak salah menjadi kota yang terbesar ke dua di Indonesia setelah Jakarta. Gubernur Risma pun terpontang panting selalu eksis untuk memberitakan keadaan di sana entah dengan kurangnya tempat Rumah Sakit untuk pengobatan ataupun suasana rapat yang selalu di beritakan kepada publik.

Satu lagi Bupati Lumajang yang kini sedang viral yang sering saya tonton. Dalam keadaan pandemi saat ini kegiatan yang diekspos lumayan bagus seperti sidak ke beberapa daerah seperti menanggulangi perizinan pertambangan yang menyusahkan warga masyarakat yang dirugikan oleh akibat jalan yang selalu rusak, sampai hampir bertengkar dengan supir truk pertambangan.

Kasus yang lain yaitu pengauran tanah oleh pihak pertambangan yang membeli tanah dengan asal usul yang tidak jelas dan sidak ke mall-mall yang dianggap penuh masyarakat yang bisa menyebaban penularan covid yang cepat.

Stop dulu ya, nanti malah ngomongin kesana kemari tidak jelas.hehe…

Lanjut dengan cerita saya yang mendukung untuk tidak melupakan sejarah dan budaya dari Indonesia. Kenapa saya sampai ke TMII ? karena ini salah satu rencana bahan tulis saya untuk selalu update untuk pembaca saya, walaupun tak ada yang membaca. wkwkwkwwk

Taman ini mempunyai berhektar-hektar lahan yang di isi dengan berbagai bangunan yang mempunyai nilai daerah dari masing masing budaya di Indonesia. Berasal dari berbagai pulau juga dan ada suku-suku yang memang belum saya ketahui.

Dengan biaya 55k kita dapat masuk menaiki motor kedalam, dan asyiknya kita boleh menaiki motor atau mobil untuk berkeliling di taman tersebut. Sekalinya ingin berhenti ya harus turun dan melihat isi rumah yang menjadi contoh bangunan gambaran di pulau tersebut.

Hati saya tergerak di taman yang bernuansa chinesse dan suasananya sejuk di sana..

Karena tujuan saya bukan hanya bahan tulisan namun juga sebagai hunting foto maka saya puaskan untuk jeprat-jepret untuk memuaskan hasrat fotografer saya.hehe..

Setelah itu saya melihat sesuatu yang bergelantungan menggunakan tali kawat yang kokh, apa itu ?
Oh ternyata kereta gantung. Wah seumur hidup ni belum pernah nyoba kereta gantung, danakhirnya saya pun naik dengan biaya 50k kita diajak nya menggelantung melewati sebagian taman di sana. Perasaan pertama kali ngeri juga si bergelantung dan di sela sela perjalanan kawat bergetar yang mungkin menandakan pergeseran kawat di setiap tower menara di tengah perjalanan.

Untuk view dari atas jangan ditanya lagi lah jelas Epic banget itu. Belum pernaha saya berfoto di ketinggian seperti itu. Jujur saya takut dengan ketinggian karena imajinasi saya yang terlalu aktif untuk memikirkan akibat dari kecelakaan jika dari atas gedung ataupun di mana.

Perjalanan berakhir di contoh tempat anjungan daerah Bali. Seharusnya berhenti di anjungan Jawa Tengah namun saya terlanjur bablas saja, padahal dalamnya ada makanan khas kabupaten Brebes.hehe..

Setelah itu saya santap semangkok bakso untuk menghilangkan rasa lapar dan dahaga di siang hari dan bersiap pulang ke bekasi kembali utnuk menyiapkan video dan gambar yang sudah saya ambil. ( will )

2 Thoughts to “Ngulik Budaya dalam TMII”

  1. Adiwijaya

    Mantap mas bro, nice info 👍👍👍

    1. willy

      siap..
      like info dari artikel lainnya ya mas bro.hehe

Leave a Comment