Sat. Nov 28th, 2020

Begitu sulit mencari warna yang berbeda untuk aku jadikan teman hidup,
memang masih seumur kutu yang ku alami saat itu,
hanya demi sensasional kulakukan semua usaha untuk memperolehnya,
memang sensasi itu membuatku merasa bangga pada saat mengenyam pendidikan.

Kecebong mulai berubah dewasa,
semakin mengenal dunia semakin aku hanyut pada surga fana,
loloslah pada ujian kewajiban pertamaku,
tinggalkan waktu lampau menuju ajang kewajiban prestasi yang ditempa pada perjuangan 16 tahun.

Sekalinya menantang lawakan bagaikan kokohnya pohon jati yang berumur ratusan tahun,
bertukar komitmen sedari dulu untuk menetapkan satu pilihan,
berbagai peristiwa bertolak belakang hadapi sesuai perasaan yang kuat namun rentan.

Merasa kurang puas pada aspek sekunder saatnya angin topan pun muncul,
upaya pertahankan ternyata malah muncul sosok hitam dalam diri masing-masing,
dikira sekuat tembaga beratus meter sampai gunung,
namun cuma sekedar setebal baja berukuran pohon kecambah.

Temukan kembali pasangan sendal yang hilang,
cuma mampu kokohkan sekilas iklan yang berlalu lalang tanpa restu,
fokus dan menyendiri pada yang harus aku bakti,
bukan mencari warna berbeda yang eksentrik, sekarang yang aku cari ijin dari mereka. (will)

By willy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *