Sat. Nov 28th, 2020

Sejak duduk di bangku sekolah dasar sebenarnya saya enggan untuk mendengar kata horor karena dulu saya bermain permainan yang dianggap ekstrim untuk dilakukan anak-anak kecil sekarang.

Permainan yang disebut “rok tahunan”( dalam bahasa jawa ) merupakan permainan sejenis petak umpet yang jangkauan wilayah sembunyinya luas dan kadang berbahaya seperti di sawah, tempat pemakaman, halaman depan rumah tetangga dan tempat tempat yang dianggap sepi begitu.

Kenapa ditempat seperti itu dikarenakan agar si penjaga tidak mengetahui tempat yang bersembunyi. Dimainkan oleh sampai 10 sampai 15 anak yang tentunya mereka bersembunyi ada yang berkelompok dan ada yang sendiri. Dua anak menjadi penjaga yang mencari dan sisanya bersembunyi yang ditentukan dengan cara siapa yang bisa merobohkan tumpukan batu yang ditumpuk tinggi dan yang dua anak terkahir yang tak bisa merobohkan akan menjadi penjaganya.

Bersembunyi di kesepian yang membuat saya takut malah saya beranikan daripada saya yang ketahuan oleh penjaga.

Karena terlalu sering memainkannya tidak tahu kenapa semakin saya suka hal-hal yang berbau horor padahal saya saja lari jika saya sedang berjalan di gang yang sepi dan melewati rumah kosong depan rumah saya.

Kejadian pertama yang saya alami merupakan peristiwa horor yang dinamakan “ketindihan”. Di suatu malam saya tidur di kamar depan yang jendelanya saya buka sedikit untuk memberikan sinar malam dari luar karena saya suka kamar yang gelap minim lampu saat saya sedang tidur.

Kamar depan memang difungsikan untuk berjaga-jaga juga karena saat itu banyak rumah yang kemalingan dan kehilangan benda-benda yang ada di halaman rumah. Kebetulan sepeda saya tidak saya masukkan akhirnya saya yang menaga lewat kamar depan.

Seketika saya bangun membuka mata tidak tahu jam berapa, namun yang saya ketahui lewat pendengaran saya ada suara rintih menangis di luar rumah. Saya fokuskan pendengaran saya ternyata suara na lebih dekat seperti di luar kamar depan saya. Di luar kamar depan saya ada sebuah bangku jati panjang dan saya pikir sepertinya suara rintihan tangis itu ada disitu. Merasa penasaran dan takut karena belum pernah mendengar yang seperti itu maka saya coba melihat langsung lewat jendela.

Namun apa yang terjadi, tubuh saya tidak bisa digerakkan. Tangan, badan sampai kaki pun seperti sulit untuk di digerakkan. Saya seketika langsung membaca istigfar dan selalu membaca zikir sambil menengokkan kepala ke luar jendela penasaran ada apa disitu.

Merasa sudah ditahan oleh sesuatu badan saya sehingga tidak bisa bergerak dan lemas akhirnya saya pun tidur kembali untuk memulihkan tubuh saya. Terbangun saat adzan subuh badan saya terasa lemas sekali dan saya pun segera shalat kemudian tidur kembali karena masih lemas badan saya.

Dari experince tersebut lah yang bukannya menjadi trauma bagi saya malah saya semakin suka dengan hal yang berbau mistis dan horror. Semakin saya takut malah semakin saya suka dengan hal yang seperti itu sampai-sampai saya menjadi maniac film horor apapun untuk mengetahui beberapa kejadian nyata yang biasanya di jadikan dalam sebuah film yang langsung bisa ditonton ilustrasinya. (will)

By willy

2 thoughts on “Menyukai Horor”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *