Mon. Sep 21st, 2020

Masa remaja selalu dihabiskan dengan yang namanya pendidikan, itulah kehidupan saya saat masih berstatus anak sekolah.

Semenjak menjadi anak sekolah, perkataan orang tua memang menjadi sakral di telinga saya. Setelah pulang sekolah selalu ada harus ada les untuk tambahan pelajaran saya.

Setelah lulus SMA pun saya mencoba merantau dan belajar kembali di kota orang masih di jawa tengah yaitu semarang.

Kehidupan kuliah saya anggap lebih bebas karena jauh dari orang tua. Untuk melakukan kegiatan yang bebas pun seperti tak kenal waktu.

Jauh dari keluarga ternyata malah menjadi mempunyai tanggung jawab yang lebih besar. Menjaga nama baik orang tua, meraih prestasi yang membuat bangga orang tua dan tentunya mampu menuruti nasihat orang tua yang penting “Jaga Kesehatan nak”.

dengan tanggung jawab yang besar membuat kegiatan di semarang saya seperti statis : kuliah, olahraga, kos, kuliah, olahraga, kos begitu pun berulang sampai teman kuliah saya menganggap saya fanatik anak kos.

Masa remaja yang kurang pergi dan piknik menjadi hal yang membuat saya kesulitan membuka wawasan.

Sewaktu ketika saya menemukan sahabat dalam kehidupan di semarang. Dia mengatakan sesuatu yang tidak penting namun berarti bagi kehidupan saya.

“koe leh ra tau halan-halan, iso-iso koe tuo neg kampus koe leh”

Istilah yang menurut mereka bahan candaan namun setelah saya pikir itulah inspirasi terbuka bagi hati saya untuk tergerak.

Semenjak itu perasaan saya terbebas dan di pertengahan tahun di perkuliahan saya mulai mencari wawasan di luar semarang untuk bahan wawasan saya dan bekal untuk bahan cerita saya pada orang yang belum melihat cakrawala daerah timur semarang dan sekitarnya. ( will )

By willy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *